Setelah mengumumkan perolehan dana sebesar SG$10 juta, aplikasi dating online Paktor mengakui bahwa pasar Indonesia memainkan peran penting bagi jalannya bisnis mereka. Berdasarkan sesi interview kami dengan Pendiri dan CEO Paktor Joseph Phua, pihaknya tak cukup puas dengan mayoritas pengguna Indonesia yang dari Jakarta saja. Pendanaan kali ini akan dititikberatkan untuk merekrut talenta terbaik, dan ekspansi ke kota-kota besar di Indonesia lainnya.

Social Dating Platform

Berbeda dengan layanan kompetitornya Tinder, apa yang ditawarkan Paktor justru tidak hanya sekedar mencocokan pasangan saja. Ada faktor sosial yang membangun komunitas di dalamnya. Hal tersebut ditunjukkan oleh traksi menawan yang diklaim meraup 3,5 juta pengguna sejak November 2014 silam, total penggunanya saat ini sekitar 5 juta di Asia Tenggara.

“Indonesia adalah pasar terbesar yang mengalami pertumbuhan tercepat pada kuartal terakhir. Melalui pendanaan ini kami akan memperkuat tim di Indonesia untuk menjangkau lebih luas tak hanya di Jakarta, tetapi juga di kota-kota besar seperti Yogyakarta, Surabaya, Palembang, dan Medan,” kata Joseph pada DailySocial.

Tim di Indonesia sementara ini, menurut Joseph, hanya berjumlah lima orang. Untuk memperkaya konten lokal dan menancapkan kuku bisnis yang lebih dalam, Ia berniat merekrut talenta terbaik. Joseph menargetkan akan menggandakan tim mereka di Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. Tak menutup kemungkinan pembangunan kantor representatif di kota-kota tersebut.

Posisi engineer bagi Joseph merupakan perhatian utama pihaknya dalam waktu dekat ini. Ia berharap inovasi dan manuver Paktor akan dapat segera dilakukan.

Program retensi

Di antara negara lain, Indonesia memiliki faktor populasi yang menjanjikan. Rata-rata metric penilaian pengguna di Indonesia cenderung meraih angka yang lebih tinggi. Data yang dipaparkan Joseph terbilang menarik. Para pemudanya jauh lebih open-minded, sambutan yang diterima sangat positif.

Belum ada pembaruan terkini mengenai statistik spesifik di Indonesia sejak kami beritakan beberapa bulan silam. Joseph mengatakan jika 50% dari total penggunanya kini berumur 25 hingga 40 tahun. Sementara 18-24 juga terbilang cukup tinggi. Sementara fitur yang paling sering digunakan ialah “Gifting” di layanan premium user.

Sementara untuk meningkatkan adopsi premium user, Paktor menggelar kerjasama dengan bank untuk menghadirkan sistem terintegrasi, ATM, dan payment gateway lainnya, demi kemudahan para penggunanya yang tidak memiliki kartu kredit.

“Fitur gift memberikan kesempatan lebih tinggi bagi seseorang untuk memperoleh kecocokan. Kami akan mengembangkan fitur lain untuk premium user. Ketika mereka dimudahkan untuk melakukan pembayaran, monetisasi akan semakin mudah,” tambahnya.

Meraup pendanaan

Apakah sulit untuk meyakinkan venture capital tentang model bisnis dari sebuah dating app, sementara semua orang memadati industri e-commerce? Joseph dengan santai menyatakan hal sebaliknya.

“Tidak. Justru relatif mudah. Traksi kami baik, monetisasi kami menjanjikan, latar belakang pendiri kami kuat. Sejujurnya banyak yang berminat mendanai kami, namun masalahnya tidak semuanya memiliki visi dan tujuan yang sama. Dan kami merasa beruntung mendapatkan Convergence Ventures, Majuven, dan Vertex Ventures Holdings,” ucapnya percaya diri.

Proses kesepakatan telah berlangsung dengan singkat. Walaupun begitu Joseph masih sibuk mengurusi permasalahan legal tentang pendanaan ini. Perihal strateginya mencuri minat para investor, Joseph berkata:

Tell them exactly what you are gonna do, no bullshit.”