Munculnya UangTeman, startup yang mau meminjami Anda uang, menimbulkan banyak respon yang umumnya negatif. Firdaus Djaelani, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan, dengan tega (namun jujur) bahkan menyebut UangTeman sebagai rentenir jenis baru yang memanfaatkan teknologi. Jika Anda meminjami saya uang dengan bunga 1% per hari, saya pun akan lebih suka memanggil Anda lintah darat daripada harus menyebut Anda dengan sebutan teman.

Bunga setinggi itu harus dikenakan oleh UangTeman karena walaupun seakan-akan mereka memanfaatkan teknologi, proses bisnis mereka sebenarnya tidak lebih bagus daripada proses bisnis bank tradisional. Meskipun pengajuan pinjaman dapat dilakukan secara online, untuk pinjaman pertama calon nasabah UangTeman tetap harus melakukan hal yang dilakukan oleh semua calon nasabah bank,datang ke kantor. Hal ini mengharuskan UangTeman membuat kantor cabang hingga di beberapa kota di mana mereka ingin beroperasi.

Masih perlunya proses tatap muka ini adalah kelemahan utama UangTeman yang mengaku berbasis teknologi. Kantor cabang berarti biaya sewa kantor, biaya pegawai, listrik, telepon, internet dan biaya-biaya operasional lainnya. Biaya overhead ini cukup mahal. Jika ingin bisa bersaing dengan bank tradisional, startup manapun harus bisa menghindari biaya ini dengan melakukan segalanya secara online.

Komponen biaya lain yang membuat bunga UangTeman mahal adalah biaya manajemen risiko. Sangat naif jika Anda meminjamkan uang dan percaya bahwa semua uang Anda akan kembali. Pasti ada beberapa orang yang gagal mengembalikan pinjaman Anda. Karena itu, UangTeman harus mencadangkan keuntungannya untuk meng-cover pinjaman yang gagal dibayar kembali tersebut.

Dalam kasus UangTeman, di mana proses persetujuan pinjaman dijanjikan lebih cepat dari bank tradisional, analisa terhadap nasabah dan latar belakangnya menjadi kurang mendalam. Akibatnya, risiko gagal bayar menjadi lebih besar. Biaya yang dicadangkan pun harus lebih besar dari bank tradisional.

Biaya manajemen risiko ini sebenarnya bisa ditekan dengan algoritma persetujuan kredit yang lebih baik. Siapa yang pantas dan tak pantas mendapatkan kredit harus ditentukan secara tepat. Dengan demikian, risiko gagal bayar dapat ditekan. Namun ini adalah dua sisi bertolak belakang, di satu sisi UangTeman dituntut untuk mendapatkan nasabah sebanyak-banyaknya, di sisi lain mereka harus pilih-pilih nasabah yang kira-kira benar-benar sanggup (dan mau) membayar kembali.

Kedua biaya ini, dapat dikurangi seiring berjalan waktu di mana UangTeman telah mendapatkan banyak nasabah. Nasabah yang melakukan pinjaman kedua tak perlu lagi datang ke kantor UangTeman. Selain itu, berdasarkan history pinjaman sebelumnya, UangTeman dapat melihat siapa yang pantas diberi pinjaman lagi, siapa yang perlu untuk ditolak.

LendingClub, meminjamkan uang tanpa risiko

Di luar negeri, startup yang menyediakan bisnis peminjaman uang bukan hal baru. Mulai personal loan, house mortgage, student loan, bahkan hingga business loan, ada startup financial technology di mana orang bisa mendapatkan pinjaman. Salah satunya adalah LendingClub, sudah ada sejak tahun 2007 dan telah memberikan pinjaman sebesar $9 miliar sejak peluncurannya.

Jika UangTeman adalah Bhinneka, maka LendingClub semacam BukaLapak untuk pinjaman (sebagai marketplace). Anda bisa mengajukan pinjaman kepada LendingClub, sementara orang lain yang kelebihan uang, bisa memberikan pinjaman dengan memilih di antara banyak permohonan yang ada. LendingClub adalah pasar di mana penjual dan pembeli bertemu, sekaligus berperan sebagai otoritas yang menentukan harga di pasar tersebut.

Lending-Club-HIW

LendingClub akan menentukan bunga masing-masing pinjaman berdasarkan risiko pinjaman itu sendiri. Debitur pemula dengan profil yang tidak jelas akan dikenakan bunga besar. Per 31 Maret 2015, debitur seperti ini rata-rata dikenakan bunga 25,13%. Jika meminjam dengan jangka waktu sebulan atau lebih, ini masih lebih murah dibandingkan dengan UangTeman. Sedangkan debitur yang lebih kredibel dan sudah dikenal, dapat memperoleh bunga yang jauh lebih murah dari bank, secara rata-rata hanya 7,15%.

Apa yang dilakukan LendingClub sebenarnya sama dengan apa yang dilakukan oleh bank yaitu mempertemukan antara pemilik dana berlebih dengan orang yang butuh dana. Bedanya, bank melakukan keduanya (menarik dana dan meminjamkannya) untuk keuntungan Bank. Sedangkan LendingClub hanya menarik biaya layanan sebesar 1% setiap kali pemilik dana mendapatkan pembayaran uangnya kembali.

Sebenarnya ini agak curang, karena pemilik dana menjadi hanya menerima 99% dari uang yang dipinjamkannya. Namun sebagai gantinya, pemilik dana mendapatkan bunga, dengan dikurangi 1% jatah untuk LendingClub. Tetapi tetap saja biaya 1% itu hitungannya sangat kecil dibandingkan dengan apa yang ditarik oleh bank dari nasabahnya.

Bagaimana LendingClub bisa mengenakan biaya sekecil itu? Jawabannya ada pada dua faktor yang saya sebutkan pada tulisan pertama: biaya operasional dan manajemen risiko.

Biaya operasional LendingClub relatif rendah karena semua proses dilakukan secara online, tak ada proses tatap muka yang diperlukan. Lalu bagaimana dengan biaya manajemen risiko? Bukankah dengan melakukan semuanya secara online akan mendatangkan risiko yang tinggi karena peminjam dana tidak diketahui dengan jelas?

Inilah kunci dari proses bisnis LendingClub. Mereka memindahkan risiko gagal bayar kepada pemilik dana. Seperti yang telah diungkap sebelumnya, pemilik dana dapat memilih sesuka hati aplikasi yang ingin dibiayai. Pemilik dana bisa memilih mendapat bunga tinggi dengan dengan meminjamkan uang kepada peminjam pertama yang belum diketahui latar belakangnya, dengan risiko gagal bayar yang lebih besar.

Pemilik dana juga bisa bermain aman mendapatkan bunga secukupnya dengan meminjamkan uang pada orang yang sudah berkali-kali meminjam dan terbukti memiliki history pembayaran yang bagus.

Pilihan tersebut diserahkan kepada pemilik dana. Jika peminjam tidak membayar, LendingClub tidak mempunyai kewajiban untuk melakukan penagihan. Hukum investasi high risk high return berlaku di sini. Skema seperti ini, menguntungkan LendingClub karen tidak perlu menyisihkan biaya manajemen risiko.

Bukan hanya LendingClub yang diuntungkan dengan skema bisnis seperti itu. Peminjam akan memperoleh kesempatannya untuk memperoleh pinjaman, yang bisa jadi tidak diperolehnya di bank-bank konvensional. Jika berhasil membuktikan kredibilitasnya, peminjam juga bisa menikmati bunga yang jauh lebih ringan daripada bunga bank. Sedangkan bagi pemilik dana, mereka bisa mendapatkan bunga atas dananya dengan besarnya bisa disesuaikan berdasarkan tingkat risiko yang mereka tentukan.


Tulisan ini pertama kali dimuat di situs pribadi Andi Miftachul [1] [2].

Andi Miftachul saat ini adalah Pengawas Bank di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan sebelumnya pernah bekerja di DailySocial. Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan perusahaan. Andi bisa dikontak via Twitter @mchiell.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.