MaxyArt Usung Konsep Crowdsourcing untuk Karya Video

MaxyArt Usung Konsep Crowdsourcing untuk Karya Video

CEO: Sebagai penyandang tuna rungu tidak ada halangan untuk mencapai kesuksesan dalam startup
MaxyArt mewadahi para creator video dengan konsep crowdsourcing / MaxyArt
MaxyArt mewadahi para creator video dengan konsep crowdsourcing / MaxyArt

MaxyArt mewadahi para creator video dengan konsep crowdsourcing / MaxyArt

MaxyArt merupakan sebuah platform video crowdsourcing lokal yang mengubungkan peminat konten video kepada para pembuat video. Klien-klien MaxyArt berupa instansi ataupun perusahaan yang membutuhkan video promosi, animasi, explainer video, video klip ataupun jenis lainnya. Baik freelancer ataupun sebuah video production house dapat bergabung di sini untuk berkreasi sesuai tema atau kontes yang ditentukan. Portal MaxyArt diluncurkan dalam versi beta ke publik pada November 2014, awalnya bernama MaxyAd.

Founder dan CEO MaxyArt Paulus Ganesha Aryo Prakoso dalam kesempatan wawancara dengan DailySocial menceritakan tentang konsep yang diusung startup-nya:

“Kami ingin membantu mereka (instansi dan perusahaan yang membutuhkan konten video) untuk mendapatkan ide-ide kreatif dari para video creator serta menghubungkan mereka dengan para profesonal berbakat dan kreatif. Tujuannya adalah memberikan wadah bagi perusahaan atau instansi yang membutuhkan video bagus dan menarik yang dapat digarap oleh komunitas kreatif MaxyArt, tentu dengan berbagai pilihan, biaya terjangkau dan waktu yang relatif singkat.”

Setiap kontes rata-rata berlangsung selama 30 hari. Dan selanjutnya instansi atau perusahaan sebagai brand kontes tersebut memiliki waktu satu hingga dua minggu untuk menentukan pemenangnya. Setelah proses pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah, maka video-video tersebut akan diserahkan kepada brand untuk selanjutnya digunakan untuk kepentingannya.

Pengembangan MaxyArt didasari dari pengalaman Paulus sendiri ketika membutuhkan talenta untuk menggarap sebuah video. Saat itu paulus sedang mengerjakan sebuah proyek IT di sebuah perusahaan, ia begitu kesulitan dalam mencari rekanan yang dapat diajak bekerja sama membuat sebuah explainer video, video yang menceritakan tentang produknya. Didasari pengalaman tersebut dan dibekali pengetahuan tentang crowdsourcing yang dipelajari secara otodidak, Paulus memutuskan untuk membuat platform MaxyArt.

Saat ini tim MaxyArt terdiri dari empat orang. Ditemani oleh seorang web developer, creative designer dan bagian administrasi, Paulus mengerjakan kampanye pemasaran secara mandiri, dengan memanfaatkan media sosial dan relasi yang dimilikinya. Sebelumnya MaxyArt juga pernah memiliki tim pemasaran, karena dirasa kurang efektif saat ini maka ia memilih untuk bisnisnya saat ini.

Konsep Crowdsourcing untuk Karya Video

Paulus mengatakan bahwa konsep crowdsourcing untuk video memang tak mudah. Penyelenggara harus membuat brief yang bersifat unik dan umum, yang terpenting juga mudah dipahami. Dan menurutnya itu tidak mudah.

“Pernah kami membuat kontes bertajuk Video Made Easy, dan waktu itu hanya ada satu submisi video. Kami analisis brief yang dibuat ternyata sulit diterima dan dipahami. Di kontes lain kami mencoba membuat dengan tajuk berbeda, dan dengan brief yang lebih mudah diterima. Sebanyak 22 video dari 32 peserta berhasil dikumpulkan,” ujar Paulus.

Konsep ini diterapkan pada video menjadikannya sangat bergantung pada momentum waktu. Biasanya kontes-kontes tersebut akan ramai ketika ada hari-hari besar, seperti hari kemerdekaan, tahun baru, Ramadhan dan hari besar lainnya. Proses publikasi yang cukup matang menjadikan MaxyArt juga harus menggunakan layanan iklan premium di internet untuk mendapatkan peminat.

MaxyArt sendiri memiliki proses bisnis yang cukup unik, yaitu budget yang didapat dari klien dibagikan kepada sejumlah pemenang yang ditentukan. Klien dapat memiliki budget dengan membelinya di MaxyArt kemudian dapat menentukan jumlah pemenang dan jumlah hadiah yang dapat diberikan. Misalnya klien dapat memilki budget Rp 18.000.000 untuk sebuah kategori video, maka klien dapat menentukan jumlah pemenang, dalam hal ini dicontohkan akan ditentukan tiga pemenang, Best Movie (Rp 10.000.000), Best Narrative (Rp 5.000.000) dan Most Favorite (Rp 3.000.000).

Konsep seperti ini dinilai akan memberikan keleluasaan kepada klien, dan mereka akan merasa sepenuhnya memiliki kompetisi tersebut. MaxyArt menyediakan sembilan kategori video yang siap dikerjakan oleh lebih dari 200 pembuat video yang saat ini telah bergabung.

Keterbatasan Tak Membuat Nyalinya Ciut

Sebagai lulusan jurusan Sistem Informasi, Paulus tidak memiliki pemahaman yang mendalam seputar seni atau sinematografi. Sejak lulus kuliah ia bekerja sebagai pengembang dan analis sistem. Tidak hanya mendapat tantangan seputar latar belakang pendidikan saja, sebagai penyandang tuna rungu Paulus juga harus menyesuaikan berbagai aktivitasnya, dan harus berusaha lebih ekstra untuk dapat berkomunikasi dengan orang pada umumnya.

Setelah bosan bekerja di perusahaan, Paulus memilih untuk mengembangkan bisnisnya sendiri, bahkan ia sempat mendirikan sebuah PT yang memberikan jasa pengembangan software dan web. Januari 2014 realisasi untuk membuat video crowdsourcing mulai dijalankan. Dengan mengembangkan secara mandiri, kini sistem tersebut telah berjalan dan menyelesaikan beberapa kontes.

Paulus MaxyArt

Kepada DailySocial Paulus bercerita bahwa masalah yang cukup rumit baginya dalam mengembangkan bisnis selama ini adalah pemasaran dan komunikasi bisnis. Selain tidak memiliki latar belakang di bidang tersebut, keterbatasan pendengarannya kadang juga menjadi isu.

Namun dengan semangat pantang menyerah ia terus berusaha untuk mempelajari pola-pola pemasaran yang cocok dengan keadaannya, seperti memanfaatkan Internet, untuk memaksimalkan bisnisnya. Kepada DailySocial ia bercerita tentang pengalamannya:

“Waktu itu sata ikut event StartupAsia di Jakarta, waktu itu kami masih punya tim marketing untuk mempromosikan MaxyArt. Setiap orang mampir di stand kami. Tim marketing kami banyak mempromosikan MaxyArt dan berbincang kepada para pengunjung. Sementara saya tak mengerti pembicaraan mereka, terlalu cepat dan berbahasa Inggris, jadi saya hanya bergaya patung saja.”

Paulus melanjutkan, “Banyak acara-acara seperti seminar yang sebenarnya bisa saya ikuti untuk memperluas wawasan tentang pemasaran dan menjalin partnership, namun saya pikir datang pun juga akan percumah, karena saya tidak akan bisa mendengar apa yang dibicarakan. Maka saya memilih untuk surfing di internet saja, dan belajar secara mandiri dengan membaca bagaimana menumbuhkan bisnis dan pasar untuk MaxyArt.”

Berjalan secara bootstrap Paulus dan tim yakin bahwa apa yang ia bangun akan membawakan hasil yang membanggakan.

“Saya ingin jadi entrepreneur IT sukses, walaupun dengan keterbatasan yang saya miliki. Saya ingin membangun bisnis sepert startup sukses dan hebat dari Silicon Valley seperti Facebook, Twitter dan sebagainya. Bagi saya, sebagai penyandang tuna rungu tidak ada halangan untuk mencapai kesuksesan dalam startup,” pungkasnya.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.

Interview
x
Minerva | Maximize
3

Minerva is typing…