Categories

Analisis

Konsep O2O dan Pembangunan Pusat Distribusi di Daerah Bisa Bantu Logistik Layanan E-Commerce yang Lebih Baik

Survei Nielsen tunjukkan konsumen enggan membeli produk secara online karena tingginya biaya dan lemahnya infrastruktur logistik di Indonesia

Michael Erlangga - 9 March 2015

Ilustrasi Hambatan Bisnis / Shutterstock

Seperti yang telah kami proyeksikan sebelumnya, bahwa infrastruktur logistik di Indonesia masih kesulitan mengimbangi laju pertumbuhan layanan e-commerce. Survei Nielsen menunjukkan harga pengiriman barang yang tinggi (ke pelosok) menjadi salah satu faktor keengganan konsumen memanfaatkan layanan e-commerce. Konsep O2O (online-to-offline) dan pembangunan pusat distribusi di daerah bisa menjadi alternatif solusi.

Infrastruktur logistik yang berdaya saing rendah memaksa pelaku e-commerce terbawa arus. Biaya pengiriman barang yang tinggi menjadi faktor yang membuat biaya memanfaatkan layanan e-commerce menjadi lebih mahal. Menurut pemberitaan CNN Indonesia (8/3), hal tersebut disinyalir menghambat pertumbuhan e-commerce itu sendiri.

“The Nielsen Global Survey of E-Commerce tahun lalu menunjukkan bahwa konsumen enggan membeli produk secara online karena tingginya biaya dan lemahnya infrastruktur logistik di Indonesia,” ujar Ekonom IPMI International Business School Jimmy M. Rifai Gani, seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Mengimbangi hal tersebut, tidak heran jika seluruh entitas antar dua industri itu membutuhkan dukungan pemerintah dalam mendorong pemasaran produk secara online dari UKM, startup, dan sebagainya. Membangun pusat distribusi untuk UKM mungkin bisa menjadi salah satu solusi.

Indonesia yang merupakan negara kepulauan memang menyulitkan industri logistik Indonesia untuk kompetitif dalam mendukung perkembangan industri e-commerce. Membangun pusat distribusi di luar Pulau Jawa sejatinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun bukanlah investasi yang percuma. Skema tersebut diharapkan mampu menjangkau lebih banyak konsumen di pelosok Nusantara secara lebih merata.

Dalam hal pemain yang lebih besar, Lazada memutuskan mengembangkan in-house delivery milik mereka sendiri. Begitu pula dengan MatahariMall besutan Lippo Group. Pihaknya mengucurkan dana sebesar Rp 6 triliun untuk menghadirkan platform belanja online yang terintegrasi dengan bisnis logistik mereka.

MatahariMall menerapkan sistem O2O (online-to-offline) dalam sistem distribusinya. Konsumen diizinkan membeli secara online lantas bisa mengambil/menukar barang mereka di outlet-oulet Matahari yang tersebar di Indonesia. Metode yang bisa dibilang serupa dengan membangun pusat distribusi UKM. Layanan e-commerce lain mulai memanfaatkan konsep O2O dengan bekerja sama dengan jaringan minimarket yang memiliki toko ritel hingga ke pelosok Indonesia.

Pembangunan pusat distribusi dan konsep O2O memberikan kesempatan baru bagi kedua industri untuk saling bersinergi dengan lebih baik lagi. Setidaknya hal ini mengurangi faktor biaya pengiriman barang yang ditanggung oleh konsumen. Dengan faktor geografis Indonesia yang berupa negara kepulauan, menarik untuk disimak bagaimana peran kedua metode tersebut menjawab tantangan di industri ini.

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter