Platform layanan pembelajaran online Kelase yang hadir dari kegelisahan terhadap belum adanya sistem e-learning yang mudah digunakan dan diakses ternyata mendapat sambutan hangat dari publik. Sejak versi betanya diluncurkan pada 4 Juni 2014, saat ini terdapat sekitar 450 institusi pendidikan yang sudah bergabung.

Co-founder Kelase Winastwan Gora kepada DailySocial di Jakarta baru-baru ini mengungkapkan, “Institusi pendidikan yang bergabung terdiri dari institusi pendidikan formal dari SD hingga perguruan tinggi, dan lembaga non formal. Lembaga non formal termasuk di dalamnya pengembangan keterampilan, bimbingan belajar, dan homeschooling.”

Sambutan hangat ini memang terasa wajar mengingat para pendiri Kelase adalah orang-orang yang memang mengerti kondisi dunia pendidikan di Indonesia. Winastwan berkisah bahwa Kelase memang lahir dibidani oleh para praktisi pendidikan yang merasa gelisah terhadap kondisi e-learning di Indonesia saat ini.

Kelase digagas Winastwan bersama Brimmy Laksmana dan didasari pengalaman sebagai praktisi teknologi pendidikan dalam memanfaatkan platform LMS (Learning Management System) yang ada di pasaran melalui PT. Edukasi Satu Nol Satu-nya.

Mereka melihat bahwa saat ini masih belum menemukan platform e-learning yang mudah untuk diaplikasikan dan digunakan oleh pengguna, dapat diakses di berbagai perangkat mobile,dan memiliki fitur interaksi seperti halnya jejaring sosial. Hal ini juga sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap dunia pendidikan Indonesia.

“Pendidikan harus relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari yang sesuai dengan tuntutan lingkungan kerja abad ke-21 melalui kolaborasi, komunikasi, dan peran Information and Communication Technology,” tutur Winastwan.

Meski sudah menuai hasil awal yang cerah, masih banyak yang harus dilakukan oleh Kelase untuk menyempurnakan layanannya dan menjawab berbagai tantangan yang menghadang.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dalam meluncurkan pembelajaran versi online adalah pada jaringan internet yang “lelet”. Tantangan lain yang dihadapi oleh Kelase adalah juga keterampilan teknologi terutama dari sisi gurunya dan kebijakan sekolah yang belum mendukung BYOD (Bring Your Own Device). Banyak sekolah yang tidak mengijinkan siswanya membawa piranti mobile ke sekolah.

“Saat ini kami tengah melakukan penjajakan kerjasama dengan vendor telekomunikasi. Target kami adalah Kelase dapat diakses melalui koneksi broadband dan piranti komputasi mobile yang terjangkau, sehingga masyarakat dapat berkolaborasi dan mengakses konten-konten pembelajaran yang dipublikasikan di Kelase dengan cepat, murah, dan mudah,” papar Winastwan lebih jauh lagi.

Mereka juga menyiapkan kursus bagi pengajar untuk meningkatkan keterampilan teknologi. “Saat ini kami sudah meluncurkan layanan Massive Open Online Course bernama Kelase Academy. Pelatihan online pertama kami adalah ‘Mobile Learning dengan Kelase’ yang bertujuan melatihkan keterampilan pemanfaatan Kelase dalam pembelajaran, yang dilatihkan kepada para guru secara jarak jauh,” tutur Winastwan.

Menurut pengakuannya, pelatihan online gratis dan bersertifikat ini diikuti oleh lebih dari 30 orang Guru dari seluruh Indonesia. Pada dasarnya Kelase dapat difungsikan oleh institusi pendidikan untuk menyelenggarakan layanan MOOC (Massive Open Online Course) juga.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pengguna Kelase adalah pendekatan dalam sistem formal pendidikan melalui kerja sama dengan lembaga-lembaga pemerintahan. Saat ini Kelase sudah menjadi salah satu materi pelatihan untuk Bimbingan Teknis TIK Guru SMA se-Indonesia yang akan dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kemdikbud RI.

Fokus satu tahun ke depan dari Kelase adalah menghadirkan aplikasi mobile native untuk versi gratis dan berbayar, meluncurkan tambahan fitur dan berbagai konten pembelajaran gratis dan berbayar, dan merilis versi Bahasa Inggris. Winastwan menyebutkan, “Selain itu kami akan bekerja sama dengan lembaga pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lokal akan menyelenggarakan kegiatan pelatihan untuk guru dalam rangka menyebarluaskan virus Social Mobile Learning di Indonesia.”

Kelase bisa mengubah pengalaman proses belajar yang baru bagi guru dan siswa dari pembelajaran yang bersifat tradisional menjadi pola pembelajaran abad ke-21, termasuk mengimplementasikan kurikulum 2013 yang mengintegrasikan teknologi.

[Dok. foto pribadi]