• Tip: Opinions and analysis in English by our editor Aulia Masna. Read it here

Interview 

Senayan : Open Source Library Management System

Senayan : Open Source Library Management System

Posted by
Rama Mamuaya

June 4, 2009

Perpustakaan, tempat menimba ilmu langsung dari sumber yang tepat; salah satu tempat favorit saya ketika dulu sekolah sampai kuliah. Baiklah, pernyataan yang terakhir itu mungkin tidak sepenuhnya benar. Tapi aplikasi yang akan saya bahas ini benar adanya dan benar-benar hebat. Aplikasi ini bernama Senayan, sebuah sistem pengelolaan perpustakaan yang Open Source hasil karya anak bangsa sendiri.

Aplikasi ini bersifat bebas untuk anda download, dan juga anda oprek sendiri dengan lisensi GNU GPL. Untuk mencobanya anda bisa langsung menggunakan fasilitas demo yang disediakan tim Senayan, dan kalau anda tertarik anda pun bisa langsung mengunduh versi terbarunya. Untuk anda yang baru pertama kali menggunakan aplikasi ini, jangan takut karena Senayan memiliki dokumentasi dan manual yang cukup lengkap. Dokumentasi bisa anda lihat atau unduh disini, sedangkan untuk manual/handbook/petunjuk bisa dilihat disini.

klik untuk memperbesar

klik untuk memperbesar

Dan untungnya DailySocial berkesempatan untuk mewawancarai salah satu anggota tim pengembang Senayan via email. Berikut hasil wawancaranya dengan Arie Nugraha a.k.a Dicarve :

Perkenalkan diri dulu ah .. nama anda siapa dan posisi di pengembangan Senayan ini sebagai apa :)

Nama saya Arie Nugraha dan posisi saya di pengembangan Senayan adalah Core Programmer.

Senayan itu apa sih? Kenapa dinamakan Senayan?

Senayan itu adalah aplikasi web-based Open Source untuk kebutuhan automasi perpustakaan, atau istilah kerennya Library Automation System. Aplikasi ini dinamakan Senayan karena dikembangkan di daerah Senayan, Jakarta, tepatnya di kantor pusat Departemen Pendidikan Nasional.

Latar belakang dikembangkannya aplikasi web Senayan ini?

Latar belakang dikembangkannya Senayan pada awalnya adalah untuk menggantikan aplikasi automasi perpustakaan proprietary yang dipakai oleh Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), aplikasi tersebut bernama Alice, produk UK. Pada saat itu, Hendro Wicaksono, Lead Developer Senayan yang juga staf Perpustakaan Depdiknas berinisiatif untuk melempar sekaligus aplikasi yang akan dikembangkan ini ke publik dengan lisensi Open Source, dengan harapan masyarakat Indonesia bisa ikut menikmati aplikasi ini, khususnya perpustakaan perpustakaan kecil maupun besar di seluruh Indonesia yang belum ter-automasi proses pengelolaan perpustakaan-nya.

Akhirnya dengan dukungan dari Kepala Pusat Informasi dan Humas (PIH) Depdiknas kala itu, bapak Bambang Wasito Adi, Senayan dirilis ke publik dengan lisensi GNU GPL versi 3 dan secara perlahan tapi pasti aplikasi Alice “disingkirkan” sepenuhnya oleh Senayan hingga sekarang. Data dari aplikasi Alice dikonversikan sepenuhnya ke rdbms MySQL yang digunakan Senayan. Saat ini Perpustakaan Depdiknas mengelola kurang lebih 25.000 koleksi dan kurang lebih 1862 anggota.

Siapa saja yang berada di balik pengembangan Senayan? Tim developer dan juga endorser? Pembiayaan pengembangan dari siapa?

Senayan dikembangkan oleh komunitas pengguna Senayan. Tim inti pengembangan Senayan sendiri ada 6 orang. Hendro Wicaksono sebagai Lead Developer, Arie Nugraha sebagai Core Programmer, Wardiyono sebagai main translator dan juga pengembang modul Serial Control, Purwoko sebagai lead documentation project Senayan yang juga dibantu oleh Sulfan Zayd dan Arif Syamsudin.

Biaya pengembangan versi awal Senayan didapat dari Depdiknas, tetapi kemudian biaya pengembangan kami kumpulkan sendiri dari fee project dan juga dari workshop Senayan. Sampai saat ini Depdiknas masih meng-endorse pengembangan Senayan dengan menyediakan domain senayan.diknas.go.id dan hosting untuk Senayan tanpa bayaran alias Gratis.

Target pengguna untuk aplikasi Senayan ini siapa?

Target pengguna Senayan adalah perpustakaan dari skala kecil maupun skala besar yang membutuhkan aplikasi perpustakaan yang lengkap, handal, terjangkau dari sisi finansial dan pastinya terus dikembangkan.

Senayan juga ditarget bagi perpustakaan atau lembaga apapun yang ingin dengan cepat dan mudah mempublikasi koleksi-koleksi perpustakaannya secara online/Web.

Fitur-fitur apa saja yang ada di Senayan ini?

Sebagai sebuah aplikasi yang ngaku-ngaku sebagai Library Automation System, fitur-fitur yang ada di Senayan adalah :

1. OPAC (Online Public Access Catalog) : untuk mempublikasikan daftar katalog ke publik atau pemustaka.
2. Bibliography : untuk pengelolaan data katalog dan juga Items.
3. Circulation : untuk membantu proses pengembalian, peminjaman dan denda koleksi perpustakaan.
4. Membership : untuk pengelolaan data anggota/patron perpustakaan.
5. Stock Take : untuk membantu proses Stok Opname koleksi perpustakaan.
6. Master File : untuk pengelolaan data-data master/referensial (master table).
7. System : untuk pengelolaan user aplikasi, grup user, hak akses, backup, log viewer dan juga konfigurasi global sistem.
8. Serial Control : untuk pengelolaan data langganan Jurnal, Majalah, dan terbitan berseri lainnya.

Mengapa memilih jalur Open Source yang gratis? Pertimbangannya?

Niat awal adalah niat baik agar semua perpustakaan di Indonesia pada khususnya bisa mendapatkan aplikasi automasi perpustakaan yang berkualitas dan juga gratis. Kami melihat banyak aplikasi automasi perpustakaan di Indonesia saat ini dikembangkan tanpa melihat kaidah-kaidah Library Science yang sesungguhnya. Kebetulan kami semua adalah alumni-alumni program studi Ilmu Perpustakaan yang “tidak sengaja” kecemplung jadi mania TI dan juga programmer.

Pertimbangan memilih Open Source adalah karena berdasarkan pengalaman mengembangkan aplikasi perpustakaan Open Source sebelumnya, IGLOO (http://senayan.diknas.go.id/igloo/web-1.0/), ternyata model Open Source membuat aplikasi menjadi lebih cepat matang (baik dari sisi fitur maupun sisi bugs di aplikasi). Hal ini mungkin susah didapat apabila kita membangun aplikasi yang proprietary atau closed source. Semakin banyak yang menggunakan aplikasi kita, maka akan semakin terlihat kekurangannya, baik itu bugs maupun fitur yang kurang, dan pada akhirnya kami para developer terpacu untuk terus memperbaiki dan menerima masukan positif dari user! minimal R&D effort!

Kalau sudah memilih jalur Open Source yang gratis, lalu darimana bisa dapat revenue?

Revenue kami dapat dengan menjual JASA kustomisasi Senayan untuk kebutuhan spesifik diberbagai lembaga. Selain itu kami juga mengadakan workshop Senayan. Workshop besar pertama Senayan, Alhamdulillah sukses dan mendatangkan rezeki yang banyak bagi kami para developer dan juga untuk dana pengembangan Senayan.

Tidak lupa kami mengeluarkan Zakat dan Sedekah dari hasil project atau workshop Senayan, dengan harapan pekerjaan kami mendapat Berkah dari ALLAH SWT dan juga dengan begitu segala kegiatan kami dimudahkan. :)

Sejauh ini metode marketing apa saja yang sudah digunakan?

Belum ada strategi pemasaran khusus yang kami lakukan agar Senayan semakin dikenal oleh masyarakat. Untuk lebih memperkenalkan Senayan saat ini yang kami lakukan adalah dengan aktif bergabung ke mailing list-mailing list komunitas perpustakaan dan sering memberitakan perkembangan rilis Senayan. Usaha yang lain adalah dengan mengadakan workshop atau seminar seputar automasi perpustakaan.

Kami juga mencoba menerapkan prinsip rilis Open Source, Release Early, Release Often and Listen To Your Customer, semaksimal mungkin. Sampai saat ini kami sudah melakukan 20 kali rilis sejak Senayan pertama kali dirilis pada akhir 2007.

Respon masyarakat terhadap aplikasi ini bagaimana?

Alhamdulillah respon masyarakat sangat positif dan antusias, khususnya kalangan pustakawan dan profesional informasi di Indonesia. Yang kami ketahui sudah ada 45 perpustakaan di seluruh Indonesia yang menggunakan Senayan, sebagian besar sudah meng-onlinekan Senayan-nya ke Web. Daftar lengkapnya bisa dilihat di  http://senayan.diknas.go.id/web/?q=node/36, ini belum termasuk perpustakaan yang tidak mempublikasikan penggunaan Senayan.

Beberapa pengguna dari luar negeri juga sudah ada, seperti dari Malaysia, India dan juga Amerika.

Bisnis Open Source itu sebenarnya menguntungkan tidak? Apakah prospeknya bagus untuk di Indonesia?

Alhamdulillah selama kami bergelut dengan model bisnis Open Source, keuntungan yang kami dapat cukup besar. Bisnis Open Source akan menguntungkan apabila dijalankan sepenuh hati dan dengan niat ikhlas. Seperti saya pernah dengar dari seorang ahli komputer, aplikasi/software yang dikembangkan dengan sepenuh hati dan tanpa paksaan dari pihak manapun hasilnya akan lebih bagus dari aplikasi serupa yang proprietary misalnya.

Bisnis Open Source IMHO memiliki prospek bagus di Indonesia, asalkan semua produsen aplikasi Open Source mau mendengarkan kritik, saran serta masukan dari konsumen. Programmer-nya juga jangan gengsi kalo dibilang aplikasinya buggy atau tidak sempurna , hal tersebut harusnya menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan dan memperbaiki aplikasi.

Rencana ke depan untuk Senayan ini apa? Penambahan fitur mungkin?

Masih banyak cita-cita yang kami ingin wujudkan di Senayan, antara lain :

1. Dukungan terhadap standar MARC (Machine Readable Catalog).
2. Model framework pengembangan aplikasi yang lebih modular.
3. Dukungan Thesaurus dan Taxonomy yang lebih baik.
4. Search dan Retrieval data koleksi yang lebih baik dan cepat.
5. Fitur Selective Dissemination of Information (SDI).

Bagaimana? Masih berpendapat bahwa Open Source itu selalu kesulitan pendanaan? Atau masih kalah kompetisi dengan perangkat lunak propietary?

Semoga sukses untuk Senayan, dan maju terus karya anak bangsa dan dukung open source!!

 

Terbaru di DailySocial



Discussions

Advertisement

Advertise with us!

  

 



Cool Jobs

See pricing plan & benefits

Publish »

Terms & Condition

×