• Tip: Opinions and analysis in English by our editor Aulia Masna. Read it here

Analisis 

Monetisasi Jejaring Sosial

Monetisasi Jejaring Sosial

Posted by
Rama Mamuaya

January 22, 2009

Oke, anda punya ide dan konsep brilian untuk membangun sebuah situs jejaring online. Ide yang sangat orisinil, belum ada yang punya, unik! Anda langsung mengkontak teman-teman web developer, programmer, dan designer untuk mengajak rapat mengenai ide ini. Wah! Responnya ternyata sangat positif! Pasti akan banyak yang bergabung ke komunitas ini, pindah dari Friendster atau Facebook. 3 bulan kemudian, ide anda terbukti jitu mendatangkan banyak pengguna yang beralih dari Friendster dan Facebook. 300.000 member baru hanya dalam waktu 3 bulan! Sebuah prestasi yang hebat.

Namun, setelah 3 bulan muncul pertanyaan baru. Bagaimana mendatangkan uang dari sini? Kita kan perlu uang untuk melakukan maintenance, meng-hire karyawan, biaya hosting, domain, dan lain-lain. Dari mana kita bisa dapat uang dari situs kita? Dan layaknya jutaan pebisnis online lainnya, anda pun membuka spot iklan sebagai sarana pembiayaan (monetisasi). Langkah spontan yang biasa dijumpai di layanan seperti MySpace, LinkedIn, Friendster dan Facebook. Apakah ini salah? Tentu saja tidak, lha wong menghasilkan uang halal kok, so no problem! Masalah mulai muncul ketika kita menyadari betapa kecilnya uang yang kita dapat dari click iklan di situs jejaring sosial kita. VentureBeat -dengan sederhana namun mendalam- memaparkan mengenai lemahnya pembiayaan situs jejaring sosial menggunakan iklan. Salah satu isu yang diangkat di paparan tersebut adalah kecilnya uang yang didapat dari CPM (cost per thousand views) yang lebih kecil dari 1 dollar. Kevin Keleher dari Wired Magazine juga mengulas secara rinci masalah revenue melalui iklan di situs MySpace dan situs jejaring sosial lainnya. Di post ini, dijelaskan rincian perhitungan revenue yang bisa didapat melalui iklan berbasis CPM.

Masalah lain yang muncul adalah kebanyakan metode pengiklanan yang justru menggagalkan usaha dari pengguna untuk engage ke layanan yang disediakan. Dalam bahasa sederhana, iklan yang mengganggu. Memang Kompas bukan sebuah layanan jejaring sosial, namun iklan yang tiba-tiba menutup layar anda ketika pertama membuka situs Kompas.com adalah contoh yang bagus untuk ini. Ketika kenyamanan pengguna dikorbankan untuk menampilkan iklan premium yang mendatangkan uang banyak, maka akan dapat mengurangi tingkat kunjungan pengguna yang merasa terganggu.

Contoh kasus yang cukup mengagetkan saya, adalah bagaimana Facebook benar-benar banting tulang untuk mendapatkan pembiayaan. Pada kenyataannya, situs jejaring sosial sekelas Facebook saja masih sulit untuk mendatangkan revenue. Bayangkan, dengan traffic yang sangat tinggi, pengguna yang jumlahnya fantastis, ternyata belum bisa membantu Facebook mendatangkan revenue yang signifikan. Namun tentu saja hal ini *untuk sementara* lebih baik daripada me-monetize sesuatu dengan mengorbankan pengguna, misalnya menjual email. Hahaha, itu bercanda kok, tidak mungkin Facebook sebegitu desperate-nya cari uang :p

gambar:500hats

gambar:500hats

Kalau saya berfikir bahwa Facebook apps itu adalah sebuah ladang yang cukup subur untuk dimonetize. Kenapa? Karena pada kenyataannya banyak pengguna yang menggunakan aplikasi-aplikasi yang tersebar di facebook, meskipun dikembangkan oleh pihak ketiga. Dan tidak jarang juga, aplikasi-aplikasi ini justru memasang iklan untuk memonetize aplikasi mereka. Ini tentu saja sebuah kesempatan yang terbuang, dan seharusnya bisa dimanfaatkan oleh Facebook sebagai sumber revenue.

Salah satu strategi yang ditempuh Facebook antara lain kerjasamanya dengan CNN baru-baru ini untuk menyiarkan live streaming acara inagurasi Presiden Obama beberapa hari lalu. Rumor menyatakan Facebook mendapat revenue yang cukup besar dari kerjasama dengan salah satu media televisi besar di Amerika ini, meskipun rincian strategi dan total keuntungan tidak di-disclose.

Contoh lain, LinkedIn. Mungkin strategi LinkedIn ini adalah salah satu strategi yang cukup berhasil mendatangkan uang untuk LinkedIn. Bekerja sama dengan Simply Hired, LinkedIn memberikan kemudahan bagi Simply Hired untuk mencari pekerja-pekerja professional berdasarkan profil mereka di LinkedIn. Berhubung LinkedIn memiliki database yang akurat dan dalam jumlah besar, maka LinkedIn tinggal memberikan fitur kemudahan untuk SimplyHired dalam mencari pekerja potensial melalui LinkedIn. Simbiosis Mutualisme *halah* ini menghasilkan revenue yang cukup besar untuk LinkedIn dalam kerjasamanya dengan Simply Hired, dan Simply Hired pun mendapatkan kemudahan mencari SDM yang cocok untuk klien-klien mereka meskipun harus membayar cukup besar ke LinkedIn. Well at least, it’s worth it… for both side.

Kasus yang sedang hangat-hangatnya, Twitter! Situs microblogging + jejaring sosial ini memiliki basis pengguna yang sangat banyak dari seluruh penjuru dunia. Jutaan pengguna mengirimkan status mereka sampai rate ribuan status per detik. Namun karena metode monetisasi tak kunjung tiba, akhirnya Kevin Thau pun diboyong. Mantan Business Developer Buzzwire ini sengaja didatangkan ke markas Twitter di San Fransisco untuk membawa ide-ide baru mengenai bagaimana mendatangkan revenue untuk Twitter. Sampai sekarang sih memang belum ada terlihat strategi monetisasi yang konkrit di Twitter, namun sudah muncul beberapa indikasi langkah awal untuk memonetisasi beberapa layanannya. Contoh layanan yang dimonetisasi seperti Friend Suggestion, dan yang baru terlihat minggu depan adalah pembatasan request via API Twitter.

Dari langkah – langkah yang diambil ini, memang sepertinya Twitter memiliki strategi monetisasi yang cukup solid, datang dari seorang web business development yang handal. Kenapa saya bilang solid, karena melihat behaviour audience Twitter (terutama korporat) yang sulit mendapatkan exposure di Twitter ketika baru mendaftar. Adalah sebuah keharusan untuk mem-follow ribuan orang terlebih dahulu untuk mendapatkan exposure yang cukup untuk kemudian di-follow oleh orang lain, dan mendapatkan basis follower yang cukup agar dapat mengefektifkan penggunaan Twitter untuk korporat. Hal ini kemudian “didengar” oleh Twitter dan tentu saja diidentifikasi sebagai lahan revenue yang solid, karena tepat sasaran (untuk pengguna yg membutuhkan exposure) dan tidak mengganggu mayoritas pengguna lain (yang tidak membutuhkan exposure)

Oke, lalu bagaimana dengan layanan lokal? Digli, Fupei, dan berbagai macam layanan jejaring sosial lainnya di Indonesia? Apakah cukup hanya dengan iklan saja? Kalau anda dipilih sebagai CEO dari situs jejaring sosial lokal, strategi monetisasi apa yang akan anda tempuh untuk mendatangkan revenue?

Bacaan

http://clickingandscreaming.com/2009/01/06/monetize-or-die-social-networks-in-2009/

http://www.emergencemarketing.com/2006/05/02/hypergrowth-at-myspace-but-with-some-trouble-monetizing-traffic-through-advertising/

http://www.wired.com/techbiz/it/magazine/16-04/bz_socialnetworks

http://venturebeat.com/2008/11/12/monetizing-social-networks-the-good-the-bad-and-the-ugly/

http://chimprawk.blogspot.com/2006/10/selling-social-networks.html

http://www.buzznetworker.com/twitters-monetization-strategy/

http://www.web-strategist.com/blog/2008/02/11/the-many-challenges-of-social-networks/

 



Discussions

Advertisement

Advertise with us!

  

 


Cool Jobs

See pricing plan & benefits

Publish »

Terms & Condition

×