Opini 

Model Bisnis Ala TweetDeck

Model Bisnis Ala TweetDeck

Posted by
Wiku Baskoro

December 23, 2009

TweetDeckMembicarakan sebuah startup adalah membicarakan tentang sebuah perusahaan, tentang sebuah model bisnis, dan ketika membicarakan model bisnis, perbincangan tentang bagaimana mendapatkan revenue adalah sebuah keharusan. Bukan yang paling penting memang, tapi untuk sustainability, membicarakan tentang bagaimana sebuah perusahaan mendapatkan pemasukan adalah sebuah hal yang tidak bisa tidak dibicarakan.

Social networking adalah salah satu dari sekian banyak aplikasi internet yang sering diberi pertanyaan tentang, bagaimana cara mereka mendapatkan pemasukan. Jika di negara luar, peran angel investor begitu kentara, tidak halnya di sini. Proses pembiayaan startup di Indonesia, kebanyakan bersandar investasi pribadi. Lembaga pembiayaan yang mirip di Silicon Valley memang jarang kalau boleh dibilang tidak ada.

Ada banyak model bisnis yang bisa diterapkan untuk membangun startup, yang paling sederhana yang bisa jadi juga paling rumit adalah iklan. Sederhana karena sound familiar, tapi rumit kerena mencapainya pun perlu effort, tidak hanya off line tapi on line. Secara sederhana iklan akan datang ketika trafiik situs tinggi, itu pun belum menjamin.

TweetDeck, sebagai sebuah startup, baru-baru ini meluncurkan aplikasi yang bisa mengindikasikan model bisnis mereka, yang mungkin bisa memberi ide bagi anda, para pembaca DailySocial.

Di blog resminya, TweetDeck mengatakan, bahwa selain mengembangkan core product mereka, yaitu desktop streamreader, mereka juga mulai mengembangkan kerjasama dengan berbagai pihak dari kalangan bisnis, seperti record labels, movie studio, media companies, dan group band. Kerjasama yang nantinya akan terjadi yaitu membuat TweetDeck Theme.

Salah satu deal yang baru-baru ini terjadi yaitu The TweetDeck Telegram Co. sebuah tema desktop/background aplikasi TweetDeck sebagai sarana promosi film Sherlock Holmes dan online game bernama 221B. Tema desktop TweetDeck ini bisa didownload secara gratis, seperti juga aplikasi TweetDeck. Tampilannya merupakan tampilan yang didasarkan pada film serta game tentang Sherlock Holmes tersebut. Aplikasi ini akan membuat avatar anda menjadi hitam putih serta terdapat detail-detail serta suasana yang merupakan ambience dari game dan film tersebut. Termasuk kolom time line tweet tentang game 221 B.

Saya jadi teringat WeTransfer, sebuah aplikasi gratis untuk mentransfer file, yang juga menggunakan pendekatan iklan background sebagai salah satu sumber pemasukan. Dengan kondisi real-time content dan Twitter yang masih menjadi trend, bisa jadi model bisnis ala TweetDeck ini akan menarik para klien, karena pengguna TweetDeck yang banyak bisa menjadi evangelist yang akan bercerita tentang kisah dibelakang tema desktop TweetDeck dan bagi konsumen, ketika desain background menarik dan populer, tentu akan membuat user men-download dan menggunakan tema yang tersedia.

Memang belum ada data statistik yang menunjukkan apakah model seperti ini berhasil atau tidak, dan belum juga ada jumlah resmi nilai bisnis yang diumumkan, tapi maksud saya adalah, aplikasi berbasis internet adalah sebuah kertas gambar yang luas sekali, yang bisa diisi dengan killer apps, iklan, atau fungsi yang lain. Aplikasi berbasis internet bukan hanya tentang teknologi dan teknik aplikasi itu sendiri, tapi juga tentang peluang-peluang bisnis diluar hal-hal teknis.

Model bisnis seperti TweetDeck ini memang belum tentu berhasil jika diterapkan di Indonesia, tapi, at least we can learn from the idea.

Bagaimana dengan pendapat anda? Apakah model bisnis TweetDeck ini sebuah ide yang brilian atau biasa saja? Share pendapat anda pada kolom komentar.

 

Terbaru di DailySocial



Discussions

Advertisement

Advertise with us!

  

 



Cool Jobs

See pricing plan & benefits

Publish »

Terms & Condition

×