Belakangan ini Kaskus sedang didera kabar tidak enak, dimana 5 moderator yang notabene berasal dari komunitas dan tentunya bersifat sukarela tiba-tiba mengundurkan diri secara bersamaan. Hal ini terjadi hanya beberapa bulan setelah Kaskus sukses berpartnership dengan GDP Ventures untuk investasi guna membawa Kaskus ke level yang lebih tinggi.
Karena kedekatan waktu inilah, mulai berhembus isu tidak enak bahwa para moderator ini meninggalkan Kaskus sebagai bentuk protes atas ditolaknya permintaan “imbalan” para moderator sukarela ini setelah Kaskus mendapatkan dana segar. Andrew Darwis, CTO dan founder Kaskus langsung mengklarifikasi berita ini dengan menyatakan bahwa pengunduran diri dari para moderator ini tidak ada hubungannya dengan isu permintaan “imbalan”.
Dan tidak lama kemudian para moderator yang mengundurkan diri tersebut-pun mengeluarkan pernyataan resmi yang bernada sama dengan Andrew, menolak semua rumor yang menyatakan bahwa para moderator tersebut meminta bagian dari Kaskus. Meskipun sekarang masalahnya sudah diatasi dengan cepat, nampaknya ada beberapa pihak yang memang memanfaatkan kesempatan ini untuk menjatuhkan Kaskus.
Kaskus memang unik, sebuah komunitas yang memiliki keragaman dan perilaku yang sama sekali berbeda dengan komunitas online lainnya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Dengan jutaan pengakses tiap hari, selama 11 tahun sejak didirikan, Kaskus telah menjadi rumah online bagi banyak orang yang akhirnya menjadikan Kaskus sebagai “budaya” tersendiri. Kedekatan inilah yang menjadikan banyak Kaskuser begitu loyal terhadap Kaskus, membela Kaskus ketika banyak yang mencibir, dan membalas ketika cracker menyerang Kaskus.
Dan behavior inilah yang menjadikan Kaskus besar seperti sekarang, me-maintain komunitas seperti ini tentu menjadi sangat sulit ketika berhubungan dengan bisnis dan monetisasi. Sedikit saja Kaskus salah meletakkan iklan, ribuan penggunanya langsung melayangkan protes, dan sensitivitas ini-pun harus diperlakukan dengan spesial.
Banyak startup Indonesia yang bisa belajar dari kasus Kaskus ini, bagaimana Kaskus mampu men-drive komunitas yang begitu sensitif dan membuktikan bahwa untuk situs-situs yang berbasis komunitas, bahkan proses bisnis-pun bisa dipengaruhi oleh komunitas itu sendiri. Tidak semata-mata dengan member yang banyak lalu kita bisa seenaknya keluar dengan model-bisnis yang mengganggu experience member di situs kita.
Contohnya seperti Twitter yang keluar dengan model-bisnis yang populer sebagai “Dick bar”, menampilkan trending topic (termasuk topic berbayar) di aplikasi Twitter mobile. Jutaan cercaan-pun melayang ke CEO Dick Costolo dan Twitter dipaksa untuk menghilangkan iklan terselubung tersebut. Tidak sedikit pula pengguna Twitter yang mengkritik orang-orang yang menolak “dick bar”, menyatakan bahwa sebagai pengguna loyal Twitter tentu ingin Twitter maju sebagai bisnis dan akan mendukung langkah Twitter dengan “dick bar”, toh kita menggunakan Twitter dengan gratis. Sayangnya, pendukung “dick bar” jauh lebih sedikit daripada penentangnya.
Mungkin saya sedikit bias, i love Kaskus, tapi menurut saya Kaskus cukup sukses men-drive komunitasnya agar tetap setia menggunakan layanan dan membangun culture Kaskus, namun di satu sisi Kaskus tetap unggul sebagai sebuah organisasi bisnis. Memang akan sangat sulit untuk menemukan model-bisnis tanpa merusak experience dari pengguna yang menggunakan layanan anda, namun tanpa komunitas anda tidak bisa jualan dan kalau tidak jualan maka anda akan sulit berkembang sebagai organisasi.
disclosure : DS dan Kaskus berada di bawah induk perusahaan yang sama.
[English version for this post]
Baca juga:
- Happy Birthday Kaskus!
- Kaskus Selesaikan Upgrade Engine Forum, Traffic Langsung Melonjak
- Founder Kaskus Rilis Pernyataan Tentang Pengunduran Diri dari Para Moderator Forum
- Kaskus.ws, Unofficial Subdomain Untuk Kaskus
- 11 Tahun Kaskus Dan Rencana Mereka Ke Depan
Kaskus : Bisnis Dan Loyalitas Komunitas
Karena kedekatan waktu inilah, mulai berhembus isu tidak enak bahwa para moderator ini meninggalkan Kaskus sebagai bentuk protes atas ditolaknya permintaan “imbalan” para moderator sukarela ini setelah Kaskus mendapatkan dana segar. Andrew Darwis, CTO dan founder Kaskus langsung mengklarifikasi berita ini dengan menyatakan bahwa pengunduran diri dari para moderator ini tidak ada hubungannya dengan isu permintaan “imbalan”.
Dan tidak lama kemudian para moderator yang mengundurkan diri tersebut-pun mengeluarkan pernyataan resmi yang bernada sama dengan Andrew, menolak semua rumor yang menyatakan bahwa para moderator tersebut meminta bagian dari Kaskus. Meskipun sekarang masalahnya sudah diatasi dengan cepat, nampaknya ada beberapa pihak yang memang memanfaatkan kesempatan ini untuk menjatuhkan Kaskus.
Kaskus memang unik, sebuah komunitas yang memiliki keragaman dan perilaku yang sama sekali berbeda dengan komunitas online lainnya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Dengan jutaan pengakses tiap hari, selama 11 tahun sejak didirikan, Kaskus telah menjadi rumah online bagi banyak orang yang akhirnya menjadikan Kaskus sebagai “budaya” tersendiri. Kedekatan inilah yang menjadikan banyak Kaskuser begitu loyal terhadap Kaskus, membela Kaskus ketika banyak yang mencibir, dan membalas ketika cracker menyerang Kaskus.
Dan behavior inilah yang menjadikan Kaskus besar seperti sekarang, me-maintain komunitas seperti ini tentu menjadi sangat sulit ketika berhubungan dengan bisnis dan monetisasi. Sedikit saja Kaskus salah meletakkan iklan, ribuan penggunanya langsung melayangkan protes, dan sensitivitas ini-pun harus diperlakukan dengan spesial.
Banyak startup Indonesia yang bisa belajar dari kasus Kaskus ini, bagaimana Kaskus mampu men-drive komunitas yang begitu sensitif dan membuktikan bahwa untuk situs-situs yang berbasis komunitas, bahkan proses bisnis-pun bisa dipengaruhi oleh komunitas itu sendiri. Tidak semata-mata dengan member yang banyak lalu kita bisa seenaknya keluar dengan model-bisnis yang mengganggu experience member di situs kita.
Contohnya seperti Twitter yang keluar dengan model-bisnis yang populer sebagai “Dick bar”, menampilkan trending topic (termasuk topic berbayar) di aplikasi Twitter mobile. Jutaan cercaan-pun melayang ke CEO Dick Costolo dan Twitter dipaksa untuk menghilangkan iklan terselubung tersebut. Tidak sedikit pula pengguna Twitter yang mengkritik orang-orang yang menolak “dick bar”, menyatakan bahwa sebagai pengguna loyal Twitter tentu ingin Twitter maju sebagai bisnis dan akan mendukung langkah Twitter dengan “dick bar”, toh kita menggunakan Twitter dengan gratis. Sayangnya, pendukung “dick bar” jauh lebih sedikit daripada penentangnya.
Mungkin saya sedikit bias, i love Kaskus, tapi menurut saya Kaskus cukup sukses men-drive komunitasnya agar tetap setia menggunakan layanan dan membangun culture Kaskus, namun di satu sisi Kaskus tetap unggul sebagai sebuah organisasi bisnis. Memang akan sangat sulit untuk menemukan model-bisnis tanpa merusak experience dari pengguna yang menggunakan layanan anda, namun tanpa komunitas anda tidak bisa jualan dan kalau tidak jualan maka anda akan sulit berkembang sebagai organisasi.
disclosure : DS dan Kaskus berada di bawah induk perusahaan yang sama.
[English version for this post]
Baca juga: